MANUSIA BERKARAKTER
Seperti apakah manusia berkarakter itu?
Sosok manusia idealkah?
Kayaknya akan susah ditemuiā¦
Ketika SD,
Saya dicekoki ajaran agar menjadi manusia berkarakter,
Jadilah garam,
Tak usah segenggam, tetapi cukup sejumput,
yang bermanfaat saat berada di air tawar,
Dan sia-sia saat di masukkan dalam air asin,
Jadilah terang,
tidak usah seterang matahari, tetapi cukup sepercik cahaya dian,
yang akan bermanfaat di saat gulita,
dan tak berarti di siang hari.
Mengalah bukan berarti kalah,
Begitulah karakter yang dibentuk Ibuku,
Ketika aku terpaksa ngambek sekolah saat SMP,
Lantaran merasa dicurangi,
Sabar itu subur,
Tegasnya lagi
Ketika SMA saya diindoktrinasi untuk menjadi manusia berkarakter,
Be a man among the men,
Be a man for others,
Jadilah manusia yang bebas tetapi bertanggung jawab,
Itu karakter yang dibentuk saat SMA,
Terlalu muluk memang, tergantung tafsir masing-masing individu,
Dan kami, ketika itu, sangat diberi kebebasan untuk menginterpretasikannya,
Asal, bertanggung jawab atas pilihan hasil tafsir dan interpretasi tersebut.
Saat kuliah saya dicekoki dengan petuah agar menjadi manusia berkarakter,
Jadilah orang gila,
Yang tidak pernah memikirkan akibat dari tindakan yang diambil,
Yang tidak pernah mempedulikan resiko dari tindakan yang diperbuat,
Tetapi cerdik,
Seperti ular yang bisa meliuk kesana-kemari,
Seperti bunglon yang bisa menyamar untuk bertahan hidup
Saat bekerja,
Saya berusaha menjadi manusia berkarakter seperti yang ditanamkan dalam benakku,
Tidak mudah memang,
Berpegang pada nilai yang kadang dianggap aneh oleh orang lain,
Bahkan setengah tak percaya dan menganggap saya sok idealis,
Saya keluar masuk tempat kerjaan
demi satu tujuan, menjadi manusia berkarakter.
meski kadang saya harus mengorbankan kepentingan orang lain,
bahkan kepentingan diriku,
membawa diri pada kondisi bak telur di ujung tanduk,
demi satu tujuan, menjadi manusia berkarakter.
Sudah berkarakterkah saya?
Setelah menikmati hidup selama lebih dari 30 tahun?
Takut saya untuk menjawab iya,
Karena saat ada yang meminta tolong, tetapi saya menghindar
Karena saat ada yang menjadi korban, tetapi saya cuek
Karena saat saya diminta untuk maju, tetapi takut
Karena saat saya diminta untuk berkorban, tetapi mau menang sendiri
Karena saya belum bisa menjadi garam ataupun dian
Karena saya belum bisa sabar
Karena saya belum bisa menjadi Man for Others
Lebih berani menjawab belum,
Dan bukan tidak.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home