hu-em-ai

kujadikan dia sebagai sarana menuangkan isi hatiku yang terkadang merasa kesepian di tengah keramaian

23.11.08

HIDUP

sebuah renungan pribadi

Saya saat ini sedang berada dalam sebuah krisis; krisis menghadapi hidup. Ditengah krisis tersebut saya mendapat sebuah pencerahan – kalau bisa dianggap demikian. Pencerahan itu bisa diartikan sebagai teguran, sapaan, bantuan, konseling, tamparan, atau apapun nama lain yang bisa dianggp dan disetarakan sebagai pencerahan.

Pencerahan Pertama

Di sebuah milis alumni salah satu sekolah swasta di mana saya pernah menjalani pendidikan selama 3 tahun, ada sebuah topik dengan judul “urip iku opo to?”. Apa itu hidup. Saya secara pribadi tidak mengikuti dengan serius respon para anggola milis tersebut, apalagi memberikan respon. Tetapi judul topik itu sendiri memberikan sebuah pencerahan bagi saya. Kenapa? Karena saya teringat kembali pada sebuah pandangan yang saya pegang tentang hidup itu sendiri.
Saya menganggap hidup itu mencari kesempurnaan. Kesempurnaan hidup. Dan dalam pandangan saya ini, kesempurnaan hidup itu dicapai saat seseorang meninggal dunia. Karena saat seseorang sudah pindah di dunia baka dari dunia fana, dia bisa mengetahui semua yang tidak diketahuinya selama hidup. Jadi kesimpulannya adalah bahwa hidup itu untuk mati.

Tapi apakah terus kita bisa dengan gampang mencapai kesempurnaan itu? Dengan bunuh diri, misalnya? Tidak segampang itu.

Pencerahan Kedua

Dalam agama yang saya anut, sekarang ini sedang memasuki tahapan akhir tahun. Sehingga renungan maupun bacaan kitab suci lebih banyak berisi tentang ajakan kepada umat untuk mempersiapkan diri menghadapi akhir jaman – yang menurut pencerahan pertama di atas adalh menghadapi kematian itu sendiri. Dalam salah satu kisah yang dikutip dari kitab suci dalam sebuah ibadat, hidup dan akhir jaman diumpamakan sebagai seorang tuan yang memberikan sejumlah uang (talenta) kepada hambanya dan meminta hambanya untuk mempertanggung jawabkan uang (talenta) tersebut. Mereka yang bisa mengembalikan talenta beserta hasil pengembangannya, diajak oleh tuan itu untuk menikmati kebahagiaan (bdk. Mat. 25:20-23). Tetapi mereka yang tidak mau mengembangkan talenta yang diterima, akan dibuang ke dalam kegelapan yang paling gelap, di mana di sana hanya akan terdapat ratap dan kertak gigi (bdk. Mat. 25:24-30).

Dalam mencapai kesempurnaan tersebut, setiap orang telah diberikan bekal; dan pada saat ia mencapai tujuan hidupnya – kematian – ia diminta pertanggung jawaban atas hidup yang dilalui. Artinya hidup adalah saat dimana kita harus menggunakan seluruh bekal yang telah kita terima untuk nantinya akan kita pertanggungjawabkan di akhir hidup kita nanti.

Pencerahan Ketiga

Pada hari kamis dinihari, seorang anak wanita berusia sekitar 15 tahun telah mencapai kesempurnaan hidupnya. Ia diminta untuk mempertanggung jawabkan bekal yang diterima saat ia memilai hidupnya kepada Sang Maha Pemilik Kehidupan secara menghadap. Saya membayangkan dialog antara dia dan Sang Pemberi Talenta, dan saya sangat yakin ia akan diajak oleh Sang Pemberi Talenta itu untuk menikmati kebahagiaan bersama Dia.
Rabu sore, ia mengikuti kegiatan di lingkungannya, mengeluh sakit kepala, dibawa ke rumah sakit, dan pada dinihari ia telah kembali. Saat saya hadir di rumahnya, rumah itu penuh dengan ratusan piagam, piala, dan beragam bentuk penghargaan lainnya terhadap hasil pengembangan talentanya di dunia ini. Saya menatap semuanya itu dengan penuh kekaguman, saya sangat bangga bahwa pada keluarga tersebut yang telah membantu anak-anak yang dipercayakan Sang Pemberi Talenta untuk mengembangkan talenta mereka.

Saya yakin bahwa saat menghadap Sang Pemberi Talenta, si anak ini akan mengatakan, “Wahai Sang Pemberi Talenta, lima talenta Engkau percayakan kepadaku. Lihat, ini adalah lima talenta tersebut, dan aku juga membawa laba tidak hanya lima talenta tetapi lima puluh talenta hasil pengembanganku atas lima talenta yang Engkau berikan.”

Renungan Pribadi

Kembali pada krisis yang saya hadapi tadi, saya kembali bertanya pada diri saya sendiri. Saya sangat yakin, bahwa saya telah diberi Sang Pemberi Talenta banyak talenta sebagai bekaldalam menjalani hidup saya ini. Masalahnya bagaimana saya memanfaatkan dan mengembangkan talenta tersebut. apakah saya telah mengembangkannya?
Sehingga saat saya mencapai kesempurnaan hidup saya benar-benar sempurna?
Sehingga saat saya bisa mempertanggungjawabkan talenta tersebut termasuk hasil pengembangannya yang berlipat ganda?
Sehingga saya bisa bilang bahwa hidup saya sudah saya lakukan benar-benar dengan niat untuk mencapai kesempurnaan?
Sehingga saya bisa bilang bahwa hidup saya ini benar-benar telah saya lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang saya anggap sebagai pencerahan – kalau bisa dianggap demikian – di mana pencerahan itu bisa diartikan sebagai teguran, sapaan, bantuan, konseling, tamparan, atau apapun nama lain yang bisa dianggap dan disetarakan sebagai pencerahan. Pencerahan untuk menghadapi sisa hidup saya, pencerahan yang membantu saya untuk menghadapi krisis hidup yang saat ini saya hadapi.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home