HIDUP
sebuah renungan pribadi
Saya saat ini sedang berada dalam sebuah krisis; krisis menghadapi hidup. Ditengah krisis tersebut saya mendapat sebuah pencerahan – kalau bisa dianggap demikian. Pencerahan itu bisa diartikan sebagai teguran, sapaan, bantuan, konseling, tamparan, atau apapun nama lain yang bisa dianggp dan disetarakan sebagai pencerahan.
Pencerahan Pertama
Saya menganggap hidup itu mencari kesempurnaan. Kesempurnaan hidup. Dan dalam pandangan saya ini, kesempurnaan hidup itu dicapai saat seseorang meninggal dunia. Karena saat seseorang sudah pindah di dunia baka dari dunia fana, dia bisa mengetahui semua yang tidak diketahuinya selama hidup. Jadi kesimpulannya adalah bahwa hidup itu untuk mati.
Tapi apakah terus kita bisa dengan gampang mencapai kesempurnaan itu? Dengan bunuh diri, misalnya? Tidak segampang itu.
Pencerahan Kedua
Dalam mencapai kesempurnaan tersebut, setiap orang telah diberikan bekal; dan pada saat ia mencapai tujuan hidupnya – kematian – ia diminta pertanggung jawaban atas hidup yang dilalui. Artinya hidup adalah saat dimana kita harus menggunakan seluruh bekal yang telah kita terima untuk nantinya akan kita pertanggungjawabkan di akhir hidup kita nanti.
Pencerahan Ketiga
Rabu sore, ia mengikuti kegiatan di lingkungannya, mengeluh sakit kepala, dibawa ke rumah sakit, dan pada dinihari ia telah kembali. Saat saya hadir di rumahnya, rumah itu penuh dengan ratusan piagam, piala, dan beragam bentuk penghargaan lainnya terhadap hasil pengembangan talentanya di dunia ini. Saya menatap semuanya itu dengan penuh kekaguman, saya sangat bangga bahwa pada keluarga tersebut yang telah membantu anak-anak yang dipercayakan Sang Pemberi Talenta untuk mengembangkan talenta mereka.
Saya yakin bahwa saat menghadap Sang Pemberi Talenta, si anak ini akan mengatakan, “Wahai Sang Pemberi Talenta, lima talenta Engkau percayakan kepadaku. Lihat, ini adalah lima talenta tersebut, dan aku juga membawa laba tidak hanya lima talenta tetapi lima puluh talenta hasil pengembanganku atas lima talenta yang Engkau berikan.”
Renungan Pribadi
Sehingga saat saya mencapai kesempurnaan hidup saya benar-benar sempurna?
Sehingga saat saya bisa mempertanggungjawabkan talenta tersebut termasuk hasil pengembangannya yang berlipat ganda?
Sehingga saya bisa bilang bahwa hidup saya sudah saya lakukan benar-benar dengan niat untuk mencapai kesempurnaan?
Sehingga saya bisa bilang bahwa hidup saya ini benar-benar telah saya lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang saya anggap sebagai pencerahan – kalau bisa dianggap demikian – di mana pencerahan itu bisa diartikan sebagai teguran, sapaan, bantuan, konseling, tamparan, atau apapun nama lain yang bisa dianggap dan disetarakan sebagai pencerahan. Pencerahan untuk menghadapi sisa hidup saya, pencerahan yang membantu saya untuk menghadapi krisis hidup yang saat ini saya hadapi.
Labels: renungan

0 Comments:
Post a Comment
<< Home